Share article
Print article
Please click here to read this blog post in English.
Kekuatan utama sebuah organisasi terletak pada orang-orangnya. Mereka yang membentuk budaya organisasi, memperkaya proses penentuan visi, dan bekerja mewujudkan visi tersebut dengan menjunjung integritas dan etika.
Bagi organisasi nirlaba seperti The Conversation Indonesia (TCID), orang-orang ini juga mencakup para anggota dewan. Oleh karena itu, untuk memperkuat fungsi pengawasan dan mempercepat inisiatif strategis, TCID mengangkat tiga anggota Dewan Pengawas baru: Ezki Suyanto, Shita Laksmi, dan Meuthia Ganie-Rochman.
Ketiganya perempuan, yang kehadirannya memperkuat kekayaan keahlian dan keberagaman perspektif di TCID. Kini, perempuan menempati 40% kursi di berbagai dewan yayasan, meningkat dari 25% sebelum penunjukan ini.
Didirikan oleh ahli biologi molekuler Sangkot Marzuki, bersama ahli biologi konservasi Jatna Supriatna, pengacara Tuti Hadiputranto, dan tokoh pers Indonesia almarhum Aristides Katoppo, Yayasan The Conversation Indonesia sejak awal mendapat bimbingan dari sosok-sosok terkemuka yang berintegritas dan berkomitmen pada kepentingan publik. Ilmuwan, akademisi, jurnalis senior, pengacara, pakar komunikasi strategis, hingga mantan marsekal TNI AU menduduki peran-peran Dewan Pembina, Dewan Pengawas, serta Dewan Penasihat TCID.
Dengan bergabungnya Ezki, Shita, dan Meuthia, lingkup keahlian TCID meluas, meliputi komunikasi politik, tata kelola digital, serta sosiologi masyarakat sipil dan organisasi.
Penguatan Dewan Pengawas TCID telah menjadi prioritas kami sejak awal tahun ini. Kami mendefinisikan nilai dan karakter yang harus dimiliki oleh para anggota baru Dewan Pengawas: komitmen pada kebebasan akademik, jurnalisme berbasis bukti, dan kepentingan publik; rekam jejak yang bersih dan dihormati di bidangnya; dan independensi, etika serta integritas.
"Keberadaan dewan yang aktif yang berisi sosok-sosok yang dihormati dan berdedikasi sangat penting bagi keberhasilan sebuah organisasi. Kami bangga bahwa Ezki, Shita, dan Meuthia merupakan contoh nyata individu-individu dengan nilai-nilai dan karakteristik yang kami harapkan dari anggota dewan di TCID," ujar Ketua Dewan Pembina Jatna Supriatna.
"Kami bersyukur atas kesediaan mereka menyumbangkan energi bagi misi TCID meningkatkan kualitas perdebatan publik di Indonesia," tambahnya.
Anggota Dewan Pengawas TCID, Daniel Rembeth, menggambarkan Ezki sebagai sosok yang "memiliki pandangan luas dalam berbagai isu dan opininya selalu berbasis fakta".
Daniel mengatakan sikap Ezki yang ramah dan terbuka menjadi kunci keberhasilannya membangun jejaring luas dan memengaruhi banyak pihak. "Saya optimistis Ezki dapat membawa jejaringnya di perguruan tinggi, kementerian, lembaga pemerintah, parlemen, aktivis, dan media untuk berinteraksi lebih erat dengan The Conversation," tambahnya.
Ezki saat ini menjabat Staf Khusus di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi serta pengajar Ilmu komunikasi di Universitas Indonesia.
"Sebagai dosen di Universitas Indonesia, Ezki juga dapat mengenalkan lebih banyak mahasiswa pada The Conversation, sehingga memperluas basis pembaca TCID."
Pernah menjadi jurnalis di berbagai media, termasuk SBS Radio, ia juga menjabat sebagai Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (2010-2013), dan kemudian sebagai Staf Khusus di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.
Shita adalah konsultan tata kelola digital yang memberi masukan bagi berbagai organisasi internasional di bidang transparansi, akuntabilitas, data, dan pengembangan media. Ia pernah memimpin Yayasan Tifa, menjadi staf khusus Kementerian Komunikasi dan Informatika serta mengelola program regional untuk DiploFoundation.
Anggota Dewan Pembina TCID, Endy M. Bayuni, mengatakan TCID beruntung mendapatkan Shita sebagai anggota Dewan Pengawas. "Ia membawa lebih dari dua puluh tahun pengalaman di sektor pembangunan di Indonesia dan Asia Tenggara," kata Endy.
Kariernya lebih dari satu dekade bersama Hivos Asia Tenggara, berfokus pada kebebasan berekspresi dan akuntabilitas di Indonesia, Timor Leste, dan Filipina. Ia juga berperan dalam membentuk tata kelola internet global, termasuk mendirikan Indonesia Internet Governance Forum dan menjadi anggota Multistakeholder Advisory Group dari UN Internet Governance Forum.
Endy yang juga anggota Dewan Pembina TIFA mengatakan Shita sangat profesional dan memiliki motivasi yang kuat untuk berhasil dalam segala yang ia kerjakan.
"Ada bonus ekstra untuk TCID dengan pengetahuannya yang mendalam terkait dunia media berita di lanskap digital, dengan gelar master jurnalisme dari Ateneo de Manila University dan keterlibatannya yang aktif di UN Internet Governance Forum's Multistakeholder Advisory Group dan the Asia Pacific School of Internet Governance," tambah Endy.
Shita mengatakan bahwa kehadiran TCID bisa memberi konteks atas apa yang sedang terjadi berbasis sains sehingga orang bisa dapat informasi secara lebih terstruktur. "Saat ini juga sulit bila hanya bekerja sendiri. Dengan misi TCID yang percaya pada kerja kolaborasi multisektor, saya percaya kerja TCID bisa lebih berdampak," ujar Shita.
"Saya juga semangat karena pemimpin TCID adalah perempuan; penting untuk perempuan dukung perempuan, kan?," tambahnya.
Penerima Dedicated Intellectual Award dari Kompas tahun 2022, Meuthia adalah sosiolog dan dosen senior di Universitas Indonesia yang meneliti persinggungan antara organisasi dan masyarakat, khususnya terkait ekonomi digital, big data, dan kecerdasan buatan.
Ia juga dipercaya untuk berbagai penugasan publik, mulai dari menjadi anggota panel seleksi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, hingga menjadi penasihat dalam tim anti pencucian uang dan reformasi hukum. Saat ini ia juga duduk di dewan Yappika Action-Aid dan Transparency International Indonesia.
"The Conversation adalah bagian yang diperlukan untuk menjaga rasionalitas sistem dan wilayah publik. Sekaligus menjadi tempat menghidupkan spirit dan aktivisme para individu yang ingin ikut menyumbang pada kemaslahatan masyarakat melalui gagasan yang dihasilkan secara bertanggungjawab," ujar Meuthia.
"Saya merasa berbesar hati dapat menjadi bagian dari keberadaannya," tambahnya.
Dengan bergabungnya Ezki, Shita, dan Meuthia, Dewan Pengawas TCID memasuki babak baru dengan pengawasan yang lebih kuat, keahlian yang lebih tajam, dan dewan yang lebih beragam. Sebagai CEO, saya yakin kepemimpinan mereka akan membantu kami tetap setia pada misi: membuka akses pada pengetahuan, memperkuat kualitas perdebatan publik di Indonesia, dan mendorong kebangsaan yang tercerahkan.
The core strength of an organization lies in its people. They shape the culture, enrich the processes that give rise to a purposeful vision, and work to realize that vision while upholding integrity and ethics.
For a non-profit organization like The Conversation Indonesia (TCID), this includes our board. To strengthen oversight and accelerate strategic initiatives, The Conversation Indonesia has appointed three Supervisory Board members: Ezki Suyanto, Shita Laksmi, and Meuthia Ganie-Rochman.
All three are women, whose presence strengthens both the expertise and the diversity of our board. Women now make up 40% of our boards, up from 25% before their appointment.
Founded by molecular biologist Sangkot Marzuki, conservation biologist Jatna Supriatna, lawyer Tuti Hadiputranto, and the late press figure Aristides Katoppo, Yayasan The Conversation Indonesia has long benefited from the guidance of eminent figures committed to integrity and public service. Scientists, scholars, senior journalists, a lawyer, a strategic communications expert, even a former air marshal have all served on TCID's Governing, Supervisory and Advisory Boards.
With Ezki, Shita, and Meuthia joining, TCID's breadth of expertise expands to include political communication, digital governance, and the sociology of civil society and organizations.
Strengthening the Supervisory Board has been our priority since the beginning of this year. We defined the values and qualities our board must embody: commitment to academic freedom, evidence-based journalism, and the public interest; an unblemished track record and sectoral respect; independence, ethics, and integrity.
"An active, engaged board filled with respected and dedicated figures is vital to the success of an organization. We are proud that Ezki, Shita, and Meuthia embody the very values and characterisctics we expect of TCID board members," said Governing Board Chair Jatna Supriatna.
"We are grateful for their willingness to contribute their energy to TCID's mission of improving the quality of public debate in Indonesia," he added.
TCID Supervisory Board member Daniel Rembeth describes Ezki as someone who "has broad perspectives on issues, with opinions always grounded in facts."
Daniel notes that Ezki's warm and open manner has been key to her success in building extensive networks and influencing many. "I am optimistic that Ezki will bring her connections in universities, ministries, government agencies, parliament, activism, and the media to engage more deeply with The Conversation," he added.
Ezki currently serves as Special Staff at the Ministry of Research and Higher Education, while also teaching communication science at the University of Indonesia.
"As a lecturer at the University of Indonesia, Ezki can also introduce more students to The Conversation, thereby broadening TCID's readership base," Daniel said.
Previously a journalist for various publications, including SBS Radio, she served as Commissioner of the Indonesian Broadcasting Commission (2010-2013), and later as Special Staff at the Coordinating Ministry of Maritime Affairs and Investment.
Shita is a digital governance consultant advising international organizations on transparency, accountability, data, and media development. She has led the Tifa Foundation, advised the Ministry of Communications and Informatics, and managed regional programs for DiploFoundation.
TCID Governing Board member Endy M. Bayuni said TCID is fortunate to have Shita on its Supervisory Board. "She brings more than two decades of experience in the development sector in Indonesia and Southeast Asia," Endy said.
Her career spans more than a decade with Hivos Southeast Asia, where she focused on freedom of expression and accountability across Indonesia, Timor-Leste, and the Philippines. She has also helped shape internet governance globally, co-founding the Indonesia Internet Governance Forum and serving on the UN's Internet Governance Forum advisory group.
Endy, who also serves on the Tifa Foundation board, added that Shita is highly professional and deeply motivated to succeed in everything she undertakes.
"There's an added bonus for TCID with her deep knowledge of the digital news media landscape, her master's degree in journalism from Ateneo de Manila University, and her active involvement in both the UN Internet Governance Forum's Multistakeholder Advisory Group and the Asia Pacific School of Internet Governance," Endy said.
Shita noted that TCID's role is to provide science-based context to current events so that people can access information in a more structured way. "It is difficult to work in isolation these days. With TCID's mission rooted in multisector collaboration, I believe our work can have greater impact," she said.
"I'm also excited because TCID's leader is a woman; it's important for women to support women, right?" she added.
Recipient of Kompas's 2022 Dedicated Intellectual Award, Meuthia Ganie-Rochman is a sociologist and senior lecturer at the University of Indonesia, Meuthia studies the intersection of organizations and society, most recently in the context of digital economy, big data, and artificial intelligence.
She has also been tapped for high-level public service, from selecting leaders of the Corruption Eradication Commission to advising on anti-money laundering and legal reform. She also currently sits on the boards of Yappika Action-Aid and Transparency International Indonesia.
"The Conversation is much needed entity to protect civic space and rationality within our systems. It is also a place that lights up the spirit and activism of individuals who wish to contribute to society's advancement through ideas that's responsibly produced," she said.
"I feel honored to be part of its existence," she said.
With the guidance of Ezki, Shita, and Meuthia, TCID enters this next chapter with stronger oversight, sharper expertise, and a more diverse board. As the CEO, I am confident that their leadership will help us stay true to our mission: making knowledge accessible and strengthening the quality of public debate in Indonesia and fostering an informed citizenry.














