Science Content Creation Lab: Menguatkan gelombang baru komunikator sains di Indonesia

Share article

Print article

Di linimasa media sosial, hiburan mengalir tanpa henti. Namun, di tengah derasnya arus informasi itu, muncul satu pertanyaan: bagaimana caranya agar sains tidak tenggelam dan tetap hadir di ruang publik?

Generasi muda punya peluang besar menjawabnya. Dengan kreativitas dan rasa ingin tahu yang besar, mereka berpeluang mengubah wajah komunikasi sains. Konten yang mereka buat bukan semata untuk menghibur, namun berperan dalam mendorong terbentuknya masyarakat yang lebih kritis.

Menangkap potensi itu, The Conversation Indonesia (TCID) mengembangkan program Science Content Creation Lab dan meluncurkannya ke publik pada Juli 2025. Selama sebulan penuh, delapan kelas yang digelar telah mempertemukan lebih dari 1.012 peserta lintas daerah dan disiplin ilmu, membekali mereka dengan keterampilan menciptakan konten sains yang segar, menarik, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Sejak sesi pertama, peserta diajak meninjau ulang peran komunikator sains. Chief Editor TCID, Anggi M. Lubis, menekankan tugas content creator bukan hanya menyederhanakan bahasa riset, tetapi membangun kedekatan emosional dengan audiens. "Konten berbasis riset harus relevan, membumi, dan punya daya tarik yang membuat orang peduli," ujarnya.

Hal itu dipertegas oleh Abigail Limuria, Co-Founder What Is Up, Indonesia? yang juga mengisi materi di salah satu sesi Science Content Creation Lab. Menurutnya, sains harus bisa didekatkan ke kehidupan sehari-hari agar riset tidak berhenti di jurnal, tapi justru memberi lebih banyak manfaat nyata, "Karena tantangan utama sekarang bukan kelangkaan informasi, tapi rendahnya kepedulian publik untuk benar-benar memahaminya."

Dengan memahami prinsip dan manfaat komunikasi sains, para peserta mendapatkan perspektif yang berbeda dan terdorong memperbaiki konten yang akan dibuat, "(Dari kelas ini) banyak insight dan ilmu baru yang saya dapat. Saya jadi makin sadar kalau perlu banyak membaca dan menggali bacaan," ungkap Ika Rizqiyawati, peserta yang juga berprofesi sebagai freelancer.

Selama ini, sains sering dianggap kaku, padahal konten sains sebenarnya dapat hadir dengan cara yang menyenangkan. Hal ini ditunjukkan Dennis Guido, seorang food technologist sekaligus kreator @naktekpang. Ia berbagi strategi mengolah data ilmiah dengan gaya jurnalisme agar terasa ringan dan mudah dicerna. "Komunikasi sains itu seni. Bukan cuma soal fakta, tapi bagaimana membuat orang mau berhenti sejenak untuk peduli," kata Dennis.

Senada dengan Dennis, Doni Chairullah, koordinator ASRI dan alumni Content Creator TCID, menyebut sentuhan emosi bisa jadi "ramuan rahasia" agar pesan lebih mudah nempel di audiens. "Humor, rasa penasaran, bahkan sedikit sentuhan kesedihan bisa bikin konten sains lebih melekat di ingatan," ujarnya.

Meski prosesnya sangat kompleks, mengolah konten berbasis sains tidak harus terasa dingin dan jauh. Justru ketika dipadukan dengan cerita dan emosi, sains bisa hadir lebih hangat, relevan, dan dekat dengan keseharian masyarakat, menjadi pengetahuan yang tidak hanya dipahami, tetapi juga selalu diingat.

Komunikasi sains ternyata tidak melulu soal netralitas. Okki Sutanto, penulis yang menjadi narasumber Science Content Creation Lab, menegaskan bahwa keberanian berpihak justru bisa menjadi bagian penting dari tanggung jawab seorang komunikator, terutama jika terjadi kesenjangan antara idealisme dan realitas. "Keberpihakan bukan soal emosional semata, tapi keberanian berdiri di sisi yang tepat tanpa kehilangan kredibilitas," kata Okki.

Pesan ini diperkuat Ade Indah Hutasoit, alumni Content Creator Bootcamp TCID yang aktif di organisasi masyarakat sipil di Sumatera Utama. Berdasarkan pengalamannya di ranah advokasi, ia menunjukkan bagaimana sains bisa menjadi alat gerakan sosial. "Strategi narasi, membangun jejaring, hingga kolaborasi dengan media adalah kunci agar advokasi bisa sampai ke publik," jelasnya.

Bagi para peserta yang hadir dalam kelas Science Content Creation Lab, diskusi dengan para narasumber rupanya menghadirkan kesadaran baru, bahwa komunikasi sains tidak lagi sekadar soal data, tetapi juga mampu menggerakkan orang untuk bertindak.

"Fulfilled! Kombinasi antara komunikasi dan advokasi dipaparkan komprehensif. Dari teori, praktik, sampai kolaborasi dengan media," ujar Stella, konsultan komunikasi yang hadir menjadi peserta Science Content Creation Lab.

Di balik angka dan teori, cerita adalah kunci agar pesan lebih mudah diterima. "Storytelling adalah kunci agar sains bisa menetap lebih lama di ingatan publik," ujar Kalis Mardiasih, penulis dan aktivis yang menjadi pengisi materi di pekan keempat Science Content Creation Lab.

Meski demikian, kekuatan cerita saja tidak cukup. Afifa Nafisa Windiyana, konservasionis laut sekaligus kreator konten, menekankan pentingnya keaslian. "Menjadi diri sendiri justru bikin audiens percaya. Itu yang bikin orang mau terus mengikuti kontenmu," katanya.

Konsistensi, kejujuran, dan personal branding yang autentik membuat seorang komunikator sains bisa dipercaya dan diikuti oleh khalayak. Gabungan dua perspektif ini membuka cara pandang baru, bahwa sains bisa hidup lewat cerita yang menyentuh hati, sekaligus menjaga wibawa lewat persona yang jujur.

"Materinya daging banget, jadi pengen cepat-cepat dipraktikkan," kata Eka Rahmawati yang menjadi peserta di sesi Kalis dan Afifa.

Meski berlangsung secara daring, atmosfer Science Content Creation Lab terasa hidup. Diskusi interaktif, praktik konten dengan tagar #TCIDSCCLab yang bisa ditelusuri di linimasa, hingga testimoni dan masukan dari para peserta membuat program ini lebih dari sekadar pelatihan.

Zonarifa, misalnya, mengaku mendapat pengalaman yang jarang ditemui. "Aku seneng banget karena sebelumnya nggak tahu bisa dapet ilmu komunikasi sains dari mana lagi. Rasanya jarang banget ada yang bahas tantangan dan praktiknya," ujarnya.

Hal serupa juga dirasakan oleh Ayu Nabilah, yang awalnya lebih banyak menulis artikel populer. "Sangat bersyukur bisa ikut pelatihan TCID ini. Walaupun saya belum mulai ngonten di sosmed, tapi malah dapat cita-cita baru untuk jadi science content writer," kata Ayu dengan antusias. Muhammad Ode Ramadhani bahkan menangkap manfaat kelas ini dengan lebih praktis, "Bikin kepikiran buat ngonten dari basic ilmu kuliah," tuturnya.

TCID merancang Science Content Creation Lab bukan hanya sebagai wadah belajar, melainkan juga komunitas yang saling menguatkan. Meski kelas telah usai, semangatnya tidak akan padam. Kami berkomitmen mendampingi para alumni agar terus menghadirkan sains dengan cara yang kreatif, relevan, dan berdampak. Karena pada akhirnya, sains yang dibawa ke ruang publik bukan hanya memperluas pengetahuan, tetapi juga bisa mengubah cara kita memahami dunia.

Telusuri konten berbasis sains karya peserta dengan menggunakan tagar #TCIDSCCLab di sini

More Indonesia News

Access More

Sign up for Indonesia News

a daily newsletter full of things to discuss over drinks.and the great thing is that it's on the house!